Bukan Cuma Diet, Bakteri Usus Tentukan Berat Badan Anda -->

IKLAN 970 X 90 PX

Bukan Cuma Diet, Bakteri Usus Tentukan Berat Badan Anda

Sartika
27/11/2025

Ilustrasi hubungan mikrobioma usus dengan berat badan dan otak
Hubungan kompleks antara mikrobioma usus, otak, dan metabolisme tubuh.


Para ilmuwan kini sedang sibuk mengungkap rahasia besar yang tersembunyi di dalam perut kita. Ternyata, triliunan mikroba yang hidup di usus manusia memiliki pengaruh besar terhadap berat badan, metabolisme, dan rasa lapar.

Pengaruh ini bahkan jauh melampaui dampak diet dan olahraga biasa yang selama ini kita kenal.

Selain itu, studi terbaru juga berhasil menyingkap mekanisme baru yang mengejutkan. Temuan ini berpotensi mengubah cara kita memahami dan menangani masalah berat badan pada masa depan.

Peran Mikrobioma Mengatur Nafsu Makan

Mikrobioma usus memiliki sekitar 300.000 gen mikroba. Jumlah ini jauh lebih banyak jika kita bandingkan dengan tubuh manusia yang hanya memiliki sekitar 23.000 gen.

Hebatnya, mikrobioma ini memengaruhi berat badan melalui berbagai jalur komunikasi, terutama lewat poros usus-otak (gut-brain axis). Jaringan ini secara aktif memengaruhi hormon pengatur nafsu makan, seperti leptin dan ghrelin. Hormon-hormon inilah yang bertugas mengontrol sinyal lapar dan kenyang.

Namun, masalah bisa muncul ketika bakteri usus tidak seimbang atau mengalami disbiosis. Akibatnya, tubuh akan menyimpan lebih banyak lemak dan mengalami resistensi insulin.

Lebih lanjut, riset yang terbit pada tahun 2025 menunjukkan fakta menarik lainnya. Bakteri tertentu ternyata memproduksi metabolit yang bisa berinteraksi langsung dengan hormon nafsu makan.

Sebagai contoh, bakteri Bacteroides vulgatus memproduksi vitamin B5. Vitamin ini memicu sekresi hormon GLP-1 dan FGF21 yang bekerja pada otak untuk mengurangi keinginan kita makan gula.

Sebaliknya, studi juga mengungkap sisi gelap mikroba ini. Bakteri usus ternyata bisa memicu keinginan berlebih terhadap gula (sugar craving). Hal ini kemudian mendorong kita makan berlebihan dan berujung pada obesitas.

Intervensi Baru yang Lebih Personal

Kabar baiknya, uji klinis terbaru mulai membuktikan efektivitas intervensi yang lebih spesifik. Sebuah studi pada tahun 2025 meneliti penggunaan suplemen bakteri Akkermansia muciniphila pada pasien diabetes tipe 2 dan obesitas.

Hasilnya cukup mengejutkan. Individu yang awalnya memiliki kadar bakteri ini rendah, berhasil mengalami penurunan berat badan dan lemak perut yang signifikan setelah minum suplemen.

Namun, mereka yang kadar awalnya sudah tinggi tidak merasakan efek apa pun. Temuan ini mendukung konsep pengobatan presisi, di mana pengobatan harus kita sesuaikan dengan profil tubuh masing-masing orang.

Di sisi lain, para ilmuwan di UC San Diego pada 20 November 2025 mengumumkan alat canggih baru bernama "coralME". Alat ini mampu membuat model rinci untuk memprediksi respons mikroba usus terhadap berbagai diet.

Tren Serat dan Kesulitan Menurunkan Berat Badan

Bicara soal diet, serat makanan kini muncul sebagai primadona baru. Bahkan, tren "fibermaxxing" sempat viral di media sosial pada tahun 2025. Tren ini mengajak orang-orang untuk memaksimalkan asupan serat harian mereka.

Padahal, data menunjukkan hanya 7% orang dewasa Amerika yang mengonsumsi cukup serat saat ini.

Studi membuktikan bahwa serat sangat mendukung bakteri usus baik. Bakteri ini akan menghasilkan asam lemak rantai pendek yang berfungsi menekan produksi lemak hati dan mempercepat metabolisme.

Lantas, mengapa sebagian orang sangat sulit menurunkan berat badan meski sudah berusaha?

Para peneliti di Institute for Systems Biology (ISB) menemukan jawabannya. Kunci sukses penurunan berat badan ternyata terletak pada kapasitas genetik mikrobioma usus kita.

Studi mereka pada tahun 2024 menunjukkan perbedaan mencolok. Mikrobioma pada orang yang sukses diet memiliki tingkat pertumbuhan bakteri yang tinggi.

Sebaliknya, mikrobioma pada orang yang sulit kurus justru lebih aktif memecah serat menjadi gula yang mudah diserap tubuh.

Terkait hal ini, Christian Diener, penulis utama studi tersebut, memberikan penjelasannya.

"Penurunan berat badan mungkin sangat sulit ketika bakteri usus kita memperlambat pertumbuhannya sendiri, sambil memecah serat makanan menjadi gula kaya energi yang masuk ke aliran darah kita," ujar Christian Diener.

Masa Depan Diet Kita

Profesor Hariom Yadav dari USF Center for Microbiome Research juga memberikan pandangannya. Dia mencatat bahwa manusia sejatinya "lebih bersifat mikroba daripada manusia."

Ratusan ribu gen mikrobioma di tubuh kita terus mengirimkan pesan yang memengaruhi metabolisme, peradangan, hingga kondisi otak.

"Manusia lebih bersifat mikroba daripada manusia," ujar Profesor Hariom Yadav.

Seiring kemajuan penelitian, para ilmuwan kini terus mengeksplorasi berbagai solusi. Mulai dari probiotik, prebiotik, hingga rencana nutrisi yang dipersonalisasi. Semua ini bertujuan menjadikan profil mikroba sebagai standar baru untuk manajemen berat badan yang berkelanjutan.