Pada tanggal 30 November 2022, OpenAI memperkenalkan ChatGPT kepada publik sebagai sebuah "pratinjau riset" yang sederhana. Kini, tepat tiga tahun berselang, platform ini telah berevolusi menjadi fenomena global. Data terbaru menunjukkan bahwa ChatGPT telah mencapai basis pengguna mingguan sebanyak 800 juta orang. Analis bahkan memproyeksikan angka ini dapat menembus ambang batas 1 miliar pengguna sebelum tahun 2025 berakhir. Namun, di tengah perayaan pencapaian kuantitatif ini, OpenAI dihadapkan pada realitas kualitatif yang rumit. Lanskap persaingan kecerdasan buatan (AI) kini telah berubah drastis dengan kemunculan kompetitor yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dominasi OpenAI mulai terganggu secara signifikan pasca peluncuran Gemini 3 Pro oleh Google pada 18 November lalu. Langkah ini memaksa manajemen OpenAI melakukan evaluasi strategis mendalam. Berdasarkan laporan teknis, Gemini 3 kini memimpin papan skor benchmark dengan nilai 1324, mengungguli model GPT-5.1 milik OpenAI yang berada di angka 1220. Perbedaan performa ini mulai memengaruhi preferensi pengguna tingkat lanjut. Salah satu indikator pergeseran ini terlihat dari pernyataan CEO Salesforce, yang mengungkapkan keputusannya beralih ke ekosistem Google setelah tiga tahun menggunakan ChatGPT. Dia menyoroti adanya peningkatan signifikan dalam kapabilitas penalaran (reasoning) dan kecepatan pemrosesan pada model pesaing tersebut. Selain tantangan eksternal, validitas keluaran (output) ChatGPT masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi. Masalah klasik berupa "halusinasi AI"—di mana model menghasilkan informasi palsu dengan penuh percaya diri—belum sepenuhnya teratasi. Sebuah studi empiris dari Universitas Deakin menyoroti masalah ini dengan tajam. Riset tersebut menemukan bahwa ChatGPT memalsukan sekitar satu dari lima kutipan akademis. Lebih lanjut, 56% dari total referensi yang dihasilkan teridentifikasi tidak akurat atau fiktif. CEO OpenAI Sam Altman sendiri mengakui keterbatasan teknologi ini dalam sebuah pernyataan pada Agustus 2025. Dari perspektif ekonomi, OpenAI menghadapi tekanan neraca keuangan yang berat. Meskipun berhasil mencatatkan pendapatan sebesar $4,3 miliar, perusahaan melaporkan kerugian bersih mencapai $13,5 miliar pada semester pertama tahun 2025. Proyeksi jangka panjang menunjukkan tren defisit operasional yang mungkin berlanjut hingga 2028, sebelum diharapkan mencapai titik profitabilitas pada tahun 2030. Di sisi lain, narasi mengenai peningkatan produktivitas kerja juga mulai diuji. Riset dari MIT Media Lab mengungkapkan bahwa 95% organisasi belum melihat pengembalian investasi (ROI) yang terukur dari adopsi AI. Anton Dahbura dari Johns Hopkins Institute for Assured Autonomy mencatat bahwa meskipun ChatGPT telah memicu "periode terobosan" dalam sejarah teknologi, masa depannya kini bergantung pada kemampuan perusahaan untuk mengatasi krisis validitas data dan tekanan kompetitor.
Eskalasi Kompetisi: Kebangkitan Google Gemini
Integritas Akademis dan Isu Halusinasi
"GPT-5 belum memenuhi kriteria untuk dikategorikan sebagai AGI (Artificial General Intelligence), mengingat sistem ini belum memiliki kemampuan untuk melakukan pembelajaran mandiri secara autentik," ujar Sam Altman.
Paradoks Finansial dan Produktivitas
