China baru saja membuat gebrakan besar dalam dunia energi. Mereka resmi menyalakan pembangkit listrik komersial pertama di dunia yang menggunakan teknologi karbon dioksida superkritis (sCO2). Pembangkit canggih ini terpasang di kompleks pabrik baja Shougang Shuicheng Steel, Provinsi Guizhou. Tidak main-main, ada dua unit mesin di sana yang masing-masing punya kapasitas 15 megawatt. Cara kerjanya cukup cerdas. Mesin ini menangkap panas buangan dari proses produksi baja, lalu langsung mengubahnya menjadi listrik. Listrik yang dihasilkan pun langsung mengalir untuk kebutuhan pabrik dan jaringan lokal. Sistem ini diklaim jauh lebih efisien. Menurut laporan teknis, teknologi ini mampu memanfaatkan panas buangan 50 persen lebih baik daripada turbin uap konvensional. Jadi, energi yang terbuang percuma bisa ditekan habis-habisan. “Dahulu panas dari pabrik ini cuma jadi udara panas yang keluar begitu saja, sekarang panas itu kami suruh kerja lembur jadi listrik yang bisa dipakai lagi,” ujar seorang insinyur proyek tersebut sambil bercanda dalam sebuah pemaparan. Apa bedanya dengan pembangkit listrik biasa? Pembangkit konvensional biasanya mengandalkan uap air untuk memutar turbin. Namun, sistem baru ini menggunakan karbon dioksida (CO2) dalam kondisi superkritis. Kondisi superkritis adalah fase unik ketika CO2 memiliki sifat seperti gas sekaligus cair. Dalam kondisi ini, CO2 mampu membawa energi panas dengan sangat efisien. Karena kerapatannya jauh lebih padat daripada uap air, ukuran turbin dan peralatannya bisa dibuat jauh lebih mungil. Meskipun ukurannya ringkas, daya yang dihasilkan tetap besar. Dampaknya sangat positif bagi konstruksi. Tata letak pembangkit jadi lebih hemat tempat dan biaya operasional pun berpotensi turun. Selain itu, sistem ini cukup "menumpang" pada infrastruktur pabrik yang sudah ada tanpa perlu membangun cerobong asap baru. “Dengan sCO2, kami bisa mengecilkan ukuran turbin, tapi bukan mengecilkan ambisi kami untuk bikin pembangkit yang lebih bersih dan lebih hemat energi,” jelas seorang peneliti dari lembaga riset nuklir yang terlibat dalam proyek ini. Bagi industri baja, teknologi ini adalah solusi jitu. Mereka bisa langsung menurunkan emisi karbon karena kebutuhan listrik dari luar pabrik jadi berkurang drastis. Panas yang tadinya dibuang ke udara, kini jadi aset berharga. Keberhasilan proyek ini juga membuka pintu lebar bagi sektor lain. Pada masa depan, siklus sCO2 bisa diterapkan pada pembangkit listrik tenaga nuklir generasi baru. Tak hanya itu, fasilitas energi surya yang butuh konversi panas ke listrik juga bisa mengadopsi teknologi ini. Langkah ini sejalan dengan ambisi besar China. Negeri Tirai Bambu ini menargetkan puncak emisi sebelum tahun 2030 dan mencapai netral karbon sebelum 2060. Karena itu, setiap proyek efisiensi energi punya nilai yang sangat strategis. “Kalau teknologi ini sukses di pabrik baja, kami percaya versi yang lebih besar bisa dipasang di pembangkit nuklir dan proyek energi surya skala utilitas,” kata seorang pejabat teknis saat menjelaskan rencana jangka panjang mereka. Saat China sudah pamer unit komersial yang menyala, negara lain tampaknya masih harus mengejar. Amerika Serikat, misalnya, masih berada pada tahap demonstrasi lewat proyek STEP (Supercritical Transformational Electric Power) di Texas. Proyek di Texas tersebut punya kapasitas 10 megawatt. Namun, pada fase uji awal, mereka baru berhasil menghasilkan sekitar 4 megawatt di suhu 500 derajat Celsius. Melihat fakta ini, banyak pengamat menilai China berhasil "mencetak gol" lebih dulu dalam balapan efisiensi teknologi sCO2. Padahal, riset serupa juga sedang gencar dilakukan di berbagai laboratorium dunia. Posisi China pun kian kuat di peta energi global. Dengan ekspansi nuklir yang cepat dan proyek rendah karbon ini, mereka makin mendominasi pada dekade ini. “Langkah ini bukan cuma soal satu pembangkit baru, tapi pesan kuat bahwa siapa pun yang paling cepat menguasai teknologi efisien seperti sCO2 akan punya pengaruh besar atas peta energi masa depan,” kata seorang analis energi internasional dalam sebuah diskusi kebijakan.
Rahasia di Balik Teknologi Baru
Angin Segar Buat Industri dan Lingkungan
China Memimpin Balapan Global
