Peneliti dari UCLA baru-baru ini menemukan fakta menarik. Susunan bakteri usus anak umur dua tahun ternyata bisa menjadi “ramalan awal” tentang risiko kecemasan dan depresi saat mereka berusia enam dan delapan tahun.
“Dengan melihat pola mikrobiota sejak balita, kita bisa mengidentifikasi faktor risiko mental jauh sebelum gejalanya muncul,” kata Dr. Bridget Callaghan.
Untuk penelitian ini, tim riset mengambil sampel feses dari 55 anak berumur dua tahun. Setelah itu, anak-anak ini menjalani pemindaian otak saat mereka berusia enam tahun dan berusia hampir delapan tahun. Orang tua mereka menilai gejala emosional anak-anak tersebut.
Hasil penelitian ini cukup mengejutkan. Anak dengan banyak bakteri Clostridiales dan Lachnospiraceae di usus ternyata lebih rentan mengalami masalah cemas dan depresi.
Koneksi Otak-Usus dan Emosi
Kaitan antara usus dan mental memang sangat kompleks. Dr. Callaghan menjelaskan, “Bakteri di usus memberikan pengaruh lewat jaringan otak yang mengontrol rasa takut dan stres.”
Anak-anak dengan mikrobioma yang kurang beragam atau condong ke kelompok bakteri tertentu menunjukkan pola komunikasi otak yang lebih berisiko.
Namun, tidak semua bakteri berperan negatif. Ada juga bakteri seperti Eubacteriumdan Terrisporobacter yang justru melindungi jaringan otak pengatur emosi.
Mikrobioma yang lebih beragam membuat otak anak lebih matang secara emosional, sehingga anak-anak seperti ini lebih mampu mengatur perasaan dan emosi mereka.
Apa Artinya untuk Orang Tua?
Penemuan ini membuat para ahli semakin yakin bahwa menjaga keseimbangan mikrobioma sejak anak masih kecil sangatlah penting.
“Cara paling gampang adalah lewat pola makan sehat, banyak serat, dan makanan fermentasi seperti tempe atau yoghurt,” ujar Dr. Callaghan.
Dia juga menambahkan, “Hindari stres berlebihan pada anak agar usus sehat ikut terjaga.”
Kita bisa mencoba intervensi lewat probiotik. Namun, para ahli masih terus meneliti soal keampuhannya. Singkatnya, usus anak tidak sekadar organ pencernaan, melainkan juga ikut membentuk masa depan kesehatan mental mereka.
Dr. Callaghan menyimpulkan, “Kalau kita menjaga mikrobioma anak sejak dini, anak akan memiliki fisik yang kuat dan mental yang tangguh. Anak pun lebih tahan menghadapi tantangan hidup.”
Kesimpulan
Penelitian ini jadi pijakan baru untuk orang tua dan tenaga kesehatan. Kebiasaan sehat untuk usus sejak balita terbukti berdampak besar pada masa depan anak. Riset akan terus menguji strategi intervensi mikrobioma dengan tujuan mencegah gangguan kecemasan dan depresi sejak anak berusia enam tahun.
Bakteri kecil di perut si kecil bisa jadi “jendela” masa depan kesehatan jiwa mereka. Jadi, mari kita menjaga pola makan dan usus anak, supaya mental mereka tetap kuat dan bahagia!
