Syaykh Al-Zaytun Usung Visi Indonesia Abadi

IKLAN 970 X 90 PX

Syaykh Al-Zaytun Usung Visi Indonesia Abadi

Sartika
05/01/2026
🎧 Dengarkan Artikel
Klik play untuk memulai...

Syaykh Al-Zaytun Orasi Indonesia Abadi
Syaykh Al-Zaytun menyampaikan gagasan Indonesia Abadi di Masjid Rahmatan Lil 'Alamin.


SiarKita.Com | IndramayuPemimpin Ma’had Al-Zaytun, Syaykh Panji Gumilang, kembali melontarkan gagasan kebangsaan yang menggugah nalar publik. Dalam orasi terbaru yang disampaikan di Masjid Rahmatan Lil 'Alamin, Kampus Al-Zaytun, pada Ahad, 4 Januari 2026, dia memperkenalkan visi "Indonesia Abadi" sebagai arah baru perjalanan bangsa menuju tahun 2045.

Namun, visi ini rupanya bukan sekadar jargon politik baru. Dia menegaskan bahwa konsep "Indonesia Abadi" adalah penggalian kembali terhadap janji suci yang terlupakan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya Stanza Ketiga karya W.R. Supratman.

Menggali Janji W.R. Supratman yang Terlupakan

Dalam paparannya, dia mengkritik realitas bahwa mayoritas masyarakat, bahkan para pejabat, sering kali tidak memahami esensi lagu kebangsaan secara utuh. Padahal, esensi tujuan akhir bangsa terdapat pada Stanza Ketiga yang berbunyi: "Marilah kita berjanji, Indonesia abadi".

Dia menyayangkan bahwa bagian krusial ini jarang dipelajari, bahkan oleh kalangan jenderal sekalipun. Dengan merujuk pada teks asli Mbah Rebo Wage Supratman, dia ingin mengembalikan bangsa pada ikrar aslinya: sebuah janji untuk menjadikan Indonesia kekal, bukan sekadar bersatu.

Filosofi Keabadian Menggantikan Simbol Garuda

Berlandaskan pada Stanza Ketiga tersebut, dia menilai penggunaan simbol "Garuda" untuk visi jangka panjang kurang tepat secara filosofis. Dia berargumen bahwa Garuda (elang) adalah makhluk biologis yang memiliki batas usia, yakni sekitar 35 hingga 40 tahun.

"Garuda Nusantara paeh (mati). Yang tidak hidup, yang tidak mati, Indonesia abadi," kata Syaykh.

Mengganti narasi Garuda dengan Indonesia Abadi adalah upaya menanamkan mentalitas tanpa batas waktu ke dalam kesadaran kolektif bangsa.

Revolusi Kesadaran Melalui Pendidikan

Untuk mewujudkan janji abadi tersebut, dia meletakkan pendidikan sebagai fondasi utama. Dia merancang pembangunan kampus "Pendidikan Indonesia Abadi" di 500 kabupaten. Sistem ini menanamkan Tiga Kesadaran utama: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial, yang semuanya bermuara pada nilai Pancasila.

Pendidikan ini bersifat inklusif mutlak. "Tidak usah dipilih yang pintar dan yang bodoh, masukkan semua dalam kancah pendidikan itu," kata Syaykh. 

Dengan strategi ini, dia menargetkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai angka 85 pada tahun 2045. Selain itu, pada tahun 2035, rata-rata lama sekolah anak didik Indonesia diproyeksikan mencapai minimal 13 tahun.

Meluruskan Sumpah Kebangsaan

Sejalan dengan semangat kembali ke teks asli Indonesia Raya, dia juga meluruskan pemahaman sejarah mengenai sumpah pemersatu. Dia mengkritik glorifikasi terhadap "Sumpah Palapa" Gajah Mada yang historisitasnya diperdebatkan dan bernuansa penaklukan.

Sebagai gantinya, dia menyerukan bangsa untuk berpegang teguh pada Sumpah Pemuda. Menurutnya, inilah sumpah yang otentik, memiliki bukti sejarah jelas, dan benar-benar menyatukan "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa".

Manifestasi Janji Abadi: Lima Program Nasional

Visi keabadian dari Stanza Ketiga ini kemudian diterjemahkan menjadi lima program kerja teknokratis yang harus dicapai pada 2045:

  1. Transportasi Kereta Pesisir: Membangun jalur kereta api keliling pulau (pesisir utara-selatan) dan penggunaan kapal feri rel (train ferry) untuk konektivitas antar-pulau, menghindari risiko gempa pada jembatan atau terowongan.
  2. Pelabuhan Terintegrasi: Memodernkan pelabuhan dan zona industri logistik yang tuntas pada 2045.
  3. Lumbung Pangan Dunia: Menjadikan Indonesia penyedia pangan bagi 2 miliar penduduk dunia, dengan membuka kembali potensi lahan di Merauke.
  4. Kemandirian Alutsista: Memproduksi senjata sendiri untuk pertahanan nasional, tanpa bergantung pada blok Barat atau Timur.
  5. Energi Nuklir: Mewujudkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk tujuan damai pada tahun 2045.

Menuju Kemandirian Mutlak

Pada akhirnya, visi "Indonesia Abadi" adalah seruan untuk berdikari. Dia memproyeksikan bahwa dengan jalan ini, Indonesia akan mencapai pertumbuhan ekonomi 8-9 persen dan bebas utang pada tahun 2040.

Dia menutup gagasannya dengan ajakan revolusi mental: meninggalkan mentalitas feodal "Bapak Aing" (membanggakan leluhur) dan menjadi pemuda yang berani berkata "Inilah Aku" (Innal fata man yaqulu ha ana dza).